ULANGAN = REMIDI


Setelah berkali-kali melakukan ulangan, dan hasilnya selalu ada ulangan remidi, maka hal ini mulai mengganggu saya, mengingat untuk melakukan ulangan remidi, harus dipersipakan soal-soal baru, belum lagi mengkoreksinya. Soal-soal yang baru ini juga harus dibedakan setiap kelas, bahkan di setiap kelas juga dibedakan menjadi dua tipe untuk meminimalisisr kemungkinan anak mencontek. Segala kerepotan ini sungguh sangat menyiksa saya, hingga kemudian timbul pertanyaan, mengapa harus ada ulangan remidi?

memang harus diakui, ini adalah kebijakan pemerintah yang harus kita dukung, untuk mengetahui sejauh mana kompetensi siswa, agar semua siswa kita bisa mengetahui semua materi dengan baik. Jadi, jika ulangan gagal dan tidak kompeten, maka akibatnya mereka harus melakukan ulangan remidi.Jika ada ulangan remidi dan semua kompeten, maka semua siswa berarti mampu menguasai materi yang sudah diajarkan. namun apakah praktik di lapangan memang benar sebaik itu?

Sepintas, hal ini sungguh merupakan hal yang sangat mulia, namun dalam pelaksanaannya tidak seperti itu. Anak menjadi nggampangke, tidak terkondisikan untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Saat  terjadi ulangan, maka anak dengan entengnya bertanya kapan dilakukan ulangan remidi. Apalagi jika mengetahui jenis soalnya dan mereka tidak mampu menjawabnya, maka mereka langsung bertanya, kapan akan dilakukan remidi?

Hal itu sungguh sangat berbeda saat saya masih sekolah smp dan sma. betapa pusingnya kami kalau dapat nilai buruk, dan belajar keras di ulangan berikutnya agar tidak sejelek ulangan sebelumnya. Sekarang, kadang waktu mulai ulangan, anak sudah bertanya kapan ada remidi, padahal belum di lakukan ulangan, sungguh sangat mengganggu sekali kan? hal itu seperti menunjukkan anak tidak serius, atau memang dia serius tapi tidak siap belajar sehingga berharap di ulangan berikutnya (ulangan remidi).

Hello murid-murid, tahukah kalian, tugas seorang guru kan juga  tidak hanya sekedar mengkoreksi. Apakah saya menolak untuk melakukan remidi? tidak sama sekali, saya tidak menolak kebijakan ini, hanya saja hendaknya kebijakan ini bersifat nonformal alias dikembalikan ke guru masing-masing. Jika guru merasa lebih baik dilakukan ulangan ulang, maka hendaklah harusnya dilakukan ulangan ulang, namun jika merasa tidak perlu, ya tidak perlu.

dengan pengkondisian seperti ini, maka anak terpacu untuk belajar dengan sungguh-sungguh, tidak akan berpikir kapan akan dilakukan remidi. Anak hanya akan berpikir, jika tidak belajar dengan sungguh-sungguh, maka ulangan akan gagal. Anak kemudian akan terpacu untuk belajar sungguhs-sungguh lagi di ulangan berikutnya agar bisa menutupi kekurangan pada ulangan sebelumnya.

kita harus memahami bahwa setiap siswa memiliki tingkat kemampuan yang berbeda-beda yang tidak disamakan. Jika memang kemampuan seorang siswa itu rendah, sungguh sangat sulit untuk dinaikkan ke level seperti anak-anak lain yang sudah menguasai materi dengan baik.

atau mungkin manajemen waktu saya yang kurang baik? ya mungkin saja. Yang terpenting, mari kita buat cara supaya siswa tidak berpikir mengenai remidi dan mengerahkan segala kemampuannya waktu mengerjakan ulangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s